Perlehatan Balap Dunia Formula E Jadi Standar Green Motosport dan Sportainment di Indonesia

Published on May 11, 2022

Akan hadirnya gelaran dunia balap bergengsi formula E di Jakarta bulan
depan menjadi sebuah standar baru bagaimana perlehatan sportainment dapat digelar secara
berkelanjutan di Indonesia. Hal ini terungkap dalam webinar series Net Zero Sport Emission Race
‘Worlds First : Season 8 - Jakarta E-Prix : Sustainability Perspective’ pada Senin (9/5/2022).

Iona Neilson, Senior Sustainability Manager FIA Formula E London, di acara diskusi mengatakan
bahwa sejak hadir 2014, Formula E merupakan ajang balap otomotif pertama di dunia yang
berprinsip bebas emisi atau zero emission. Di ajang ini, alih-alih menggunakan kendaraan yang
menghasilkan emisi, para pembalap akan balapan menggunakan mobil listrik.
“Formula E bisa menjadi platform yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran soal
sustainability dan energi terbarukan kepada para penonton dan para penggemar,” tutur Iona.
“Kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa kendaraan listrik bisa mengurangi emisi yang turut
membantu meningkatkan kualitas udara.”

Sementara itu, Vice President Infrastructure & General Affairs OC Jakarta EPrix 2022 Irawan
Sucahyono mencontohkan bahwa kesadaran soal sustainability itu juga bisa disebarkan oleh
Formula E melalui hal-hal kecil. “Contohnya, kami (pengelola) tak lagi menjual makanan dengan
pembungkus seperti styrofoam dan mengimbau soal penggunaan botol air,” imbuhnya.

Irawan menambahkan bahwa upaya menebarkan kesadaran itu tak terlepas dari konsep zero
emission atau sustainability yang diangkat Formula E. Konsep ini secara otomatis memengaruhi
seluruh desain acara.
Misalnya perihal pembangunan sirkuit, penyelenggara tak menebang pohon yang menghalangi
pembangunan, tetapi memindahkannya. Selain itu, ia melanjutkan bahwa dalam balapan,
“Formula E mengombinasikan tiga hal yaitu performance, efficiency, dan sustanability. Ketiga hal
ini terlihat jelas mengingat ajang ini mengandalkan tenaga listrik sehingga lebih bersih, efisien,
serta pengelolaan acaranya pun lebih sustainable.” Ini berbeda dengan balapan konvensional
yang hanya sekadar adu kecepatan atau mengedepankan performance, yang cenderung
membuang-buang energi mesin dengan percuma.
“Formula E ini adalah future dari motorsport. Ini green motorsports. Jadi, mungkin nanti dunia
balapnya akan berubah semua menjadi seperti ini. Nah, Indonesia sebagai salah satu tuan rumah
Formula E memang sangat beruntung karena future ini datang di Indonesia,” kata Irwan.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin juga
mengakui bahwa Formula E di Ancol, Jakarta atau Jakarta EPrix menjadi momentum untuk
meningkatkan kesadaran tentang sustainability, mengingat ini merupakan ajang balapan mobil
listrik—kendaraan yang bisa mengontrol gas buang emisi. Kendaraan listrik merupakan langkah
konkret untuk mengurangi beban emisi, kendaraan bermotor merupakan salah satu penyumbang
kontribusi terbesar untuk emisi gas buang yang tidak ramah lingkungan di kota-kota besar.
Kemudian dampak lainnya kendaraan bermotor ini juga turut menyerap energi bahan bakar fosil
yang sangat besar, dampaknya neraca perdagangan pemerintah pun akan terbebani. Karena
angka importasi minyak bumi yang tinggi yakni sekitar 68 juta kiloliter per tahunnya. Jika tidak
melakukan transformasi yang yang konkret salah satunya dengan peralihan menuju kendaraan listrik, angka ini angka terus membesar. Sehingga diprediksi pada 2030 Indonesia membutuhkan
minimal 100 juta kiloliter bahan bakar fosil per tahunnya. Selain menghemat keuangan negara,
penggunaan mobil listrik bisa mencegah kenaikan emisi karbon yang diprediksi mencapai 470
juta ton C02 pada tahun 2030. Pada 2019 emisi karbonnya telah mencapai 255 juta ton CO2
yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.
Oleh karena itu, kehadiran kendaraan listrik bisa menjadi moementum untuk kita melakukan
langkah-langkah percepatan untuk pencegahan kenaikan emisi karbon yang telah
mengkhawatirkan.
“Selain itu, EPrix ke-8 di Jakarta ini sebaiknya digunakan sebagai momentum untuk merebut
pasar agar green technology dan green economic betul-betul bisa masuk dan diadopsi, sehingga
pertumbuhannya tak lagi terhambat sekaligus lebih aman bagi lingkungan. Selain itu ajang ini
uga menjadi moementum pemerintah untuk mereformasi regulasi terkait insentif fiskal bagi
kendaraan bermotor yang rendah karbon. Sehingga daya saing industri kendaraan bermotor
berbasis listrik akan meningkat dan menarik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Safrudin mengatakan bahwa jika konsisten menerapkan low carbon emission vehicle
seperti kendaraan listrik, maka di 2030 bisa me-reduce Gas Rumah Kaca (GRK) gas dari road
transportation sampai dengan 59%. “Juga bisa menghemat sekitar 59 juta kilo liter bensin dan 56
juta kilo liter solar. Atau sekitar Rp 677 triliun rupiah. Low emission ini ending-nya tetap economic,”
sambungnya.

Ia melanjutkan bahwa penggunaan kendaraan listrik juga kan amembawa tiga keuntungan bagi
Indonesia. Pertama, diproyeksikan pada 2030 akan mendapat keuntungan ekonomi hingga
Rp9.603 triliun sebagai konsekuensi dari penghematan energi fosil atau bahan bakar minyak
(BBM). Kedua, penurunan emisi pencemaran udara kota dan Gas Rumah Kaca (GRK) hingga
100% pada 2030. Ketiga, merupakan trigger pertumbuhan ekonomi hijau dari sektor otomotif.
Sebagai informasi, siapa pun yang ingin menonton Jakarta EPrix secara langsung, silakan
membeli tiket di website jakartaeprixofficial.com dan jakartaeprix.goersapp.com. Pembelian tiket
sudah bisa dilakukan sejak 1 Mei lalu
 
Take a seat for the start of the 2021/22 ABB FIA Formula E World Championship

More News & Updates